National Coremap | Home | Webmail | Kontak Kami | Buku Tamu
English Version
Diskusi
Links


Meta Data
Peta Kabupaten
Data Pokok Pembangunan Daerah
Perpustakaan
Video
Data Kepegawaian
Peraturan/Undang-Undang
Galeri Foto


Kegiatan
Kesehatan Karang
Sosial Ekonomi
CREEL
Riset Agenda Daerah
Pelatihan
 
Deskripsi Wilayah
Demografi
Sosial Budaya
Ekonomi Bisnis
Perikanan



Perikanan merupakan sumber pendapatan terbesar bagi Kabupaten Raja Ampat, baik perikanan tangkap maupun budidaya.  Dengan memiliki ekosistem laut yang masih terjaga dan keanekaragaman biota laut yang tinggi, sektor perikanan memiliki potensi yang besar sehingga diharapkan dapat menjadi roda pengerak utama ekonomi Kabupaten Raja Ampat.   Hal ini sesuai dengan visinya sebagai Kabupaten Bahari yang menempatkan sektor perikanan dan kelautan sebagai sektor unggulan dalam membangun Kabupaten Raja Ampat ke depan.

Selain komiditi perikanan tangkap seperti ikan, udang, cumi-cumi, kerang/siput dan teripang, budidaya mutiara, kerapu, dan rumput laut juga sangat potensial untuk dikembangkan.  Hal ini dibuktikan dengan masuknya berbagai investasi, baik skala nasional maupun internasional di sektor ini.  Begitu pula Dinas Perikanan dan Kelautan Raja Ampat pada saat ini sedang melakukan upaya pembibitan rumput laut di beberapa tempat guna memasok kebutuhan bibit rumput laut bagi seluruh distrik di Kabupaten Raja Ampat.

Perikanan Tangkap

Perairan Raja Ampat memiliki potensi lestari (MSY) sebesar 590.600 ton/tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan sekitar 472.000 ton/tahun (80% MSY).  Saat ini sumberdaya yang telah dimanfaatkan sebesar 38.000 ton/tahun, di luar dari pemanfaatan perikanan subsisten, sehingga diperkirakan masih memiliki peluang sekitar 434.000 ton/tahun (Dinas Perikanan dan Kelautan Kab Raja Ampat, 2005).

Peluang pemanfaatan sumberdaya sebesar 434.000 ton/tahun merupakan kesempatan bagi nelayan dan perusahaan perikanan untuk meningkatkan usahanya tetapi tetap menjaga kelestarian sumberdaya dengan tidak melakukan penangkapan yang merusak (destructive fishing) seperti penggunaan bom, bahan-bahan beracun serta alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.

Pola Usaha

Di luar usaha perikanan tangkap komersial, usaha perikanan tangkap yang dilakukan nelayan Kabupaten Raja Ampat umumnya bersifat tradisional dan subsisten dengan modal usaha sangat minim serta penggunaan jenis alat tangkap, teknologi, dan alat transportasi masih sangat sederhana.  Hasil tangkapan sebagian besar untuk keperluan sendiri dan hanya sedikit yang dijual karena jauhnya daerah pemasaran.

Aktivitas penangkapan ikan, udang, cumi-cumi serta sumberdaya perikanan lainnya yang dilakukan oleh nelayan Kabupaten Raja Ampat sangat dipengaruhi oleh musim, terutama musim selatan.  Pada musim tersebut ombak besar dan nelayan tidak dapat melaut, sehingga banyak nelayan beralih profesi sebagai petani.

Lokasi Penangkapan Nelayan Tradisional

Areal penangkapan ikan dan sumberdaya perairan lainnya di Kabupaten Raja Ampat adalah di pesisir dan daerah teluk.  Nelayan lokal pada umumnya melakukan kegiatan penangkapan hanya di perairan sekitar tempat tinggal mereka. 

Kegiatan penangkapan dilakukan 3 - 4 hari dalam seminggu, dengan lama waktu  kerja antara 4 - 12 jam per hari. Untuk mencapai daerah penangkapan (fishing ground) biasanya mereka menggunakan perahu dayung dengan waktu tempuh 2-3 jam perjalanan.  

Teknologi Penangkapan

Di Raja Ampat ditemukan 14 jenis alat tangkap.  Alat tangkap yang paling dominan dan tersebar hampir di setiap distrik adalah pancing dasar dan pancing tonda.  Bagan terdapat di Waigeo Selatan, Waigeo Barat, Samate, Misool, dan Misool Timur Selatan.  Berdasarkan alat tangkap yang digunakan, teknologi penangkapan nelayan Raja Ampat masih sederhana.  Jaring angkat (bagan) digunakan untuk menangkap ikan teri (Stolephorus  sp ), cumi-cumi (Loligo sp) dan ikan-ikan pelagis lainnya seperti momar (Decapterus sp), Lema (Rastrelliger sp), Oci (Selaroides sp) dan lain-lain. Berdasarkan sebarannya, alat tangkap bagan banyak terdapat di daerah Misool, Misool Timur Selatan, dan Waigeo Selatan.

Nelayan di daerah Teluk Mayalibit biasanya menggunakan alat tango (seser) untuk menangkap ikan kembung dan udang halus. Sero (trap) hanya dijumpai di Distrik Samate, karena alat ini hanya dapat dioperasikan di daerah yang mempunyai perbedaan pasang- surutnya tinggi.

Selain nelayan lokal, banyak nelayan dari luar yang beroperasi di Perairan Kabupaten Raja Ampat. Usaha penangkapan dilakukan baik perorangan maupun perusahaaan yang menggunakan berbagai jenis alat tangkap seperti pancing (hand line), huhate (pole and line),  jaring insang (gill net), bagan (lift net), mini  purseine, dan trammel net.

Huhate (pole and line) adalah sejenis pancing yang bertangkai dari bambu atau fiber untuk menangkap ikan cakalang dan tuna. Alat ini digunakan pada kapal-kapal cakalang.  Mini purseine adalah sejenis jaring yang dioperasikan dengan cara melingkari gerombolan ikan, digunakan untuk ikan-ikan pelagis yang suka bergerombol seperti ikan cakalang, ikan layang, ikan kembung. Trammel net digunakan untuk menangkap udang dan ikan.  Alat penangkap udang lobster adalah sejenis jerat, yang terbuat dari sebilah bambu atau kayu yang diujungnya dipasang tali nilon.

Armada Penangkapan Ikan

Armada penangkapan ikan nelayan lokal yang beroperasi di Kabupaten Raja Ampat didominasi oleh perahu tanpa motor, perahu motor katinting, dan perahu motor tempel 15 PK.  Adapun para nelayan dari luar, yaitu dari Sorong dan Sulawesi, menggunakan kapal motor dengan kapasitas yang besar.

Perahu tanpa motor yang digunakan nelayan lokal pada umumnya adalah perahu yang menggunakan semang kole-kole dengan ukuran 3 7 m.  Armada ini merupakan pilihan utama masyarakat Kabupaten Raja Ampat karena tidak membutuhkan bahan bakar minyak. Adapun perahu yang menggunakan mesin katinting dan motor tempel ukurannya lebih panjang dari  7 m.  Kapal motor dengan ukuran di atas 10 GT banyak digunakan oleh para nelayan dari luar Raja Ampat.

Jenis-Jenis Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Raja Ampat terdiri dari berbagai jenis ikan pelagis besar, ikan pelagis kecil, ikan demersal, dan ikan air payau. Selain ikan, hasil tangkapan lainnya adalah udang, cumi-cumi, cacing laut, kerang serta siput. Udang yang umumnya tertangkap adalah jenis lobster (Panulirus sp). Cumi-cumi yang tertangkap adalah jenis Loligo sp.  Jenis kerang dan siput yang dimanfaatkan oleh nelayan selain kerang mutiara adalah bia garu, pia-pia, batu laga, kepala kambing dan mata tujuh.

Sejenis cacing laut yang disebut Insonem oleh masyarakat di Kepulauan Ayau, diolah dalam bentuk asar sebelum dipasarkan ke Sorong.  Cacing ini merupakan sumber protein baru yang bisa dikembangkan dan diperkenalkan sebagai hasil khas daerah Kabupaten Raja Ampat.
 
Kerang dan siput merupakan komoditi perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting.  Lola, batu laga, bia garu, mata tujuh dan lain-lain selain dagingnya yang dimanfaatkan dalam bentuk asar atau  beku, cangkangnya dapat dimanfaatkan atau dijual.  Cangkang bia garu oleh masyarakat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kapur yang digunakan untuk makan pinang. Pinctada maxima atau kerang penghasil mutiara, banyak dieksploitasi untuk diambil mutiaranya dan dimakan dagingnya.

Ikan-ikan yang tertangkap dijual dalam bentuk ikan segar atau bentuk olahan seperti ikan asin dan ikan asar, ikan beku dan juga dalam bentuk ikan hidup. Ikan tenggiri, tuna, cakalang, kepiting, cumi-cumi dan lobster dikirim ke Bitung, Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya disamping untuk memenuhi kebutuhan di sekitar Papua. Daging siput beku dikirim ke Bali. Udang halus yang banyak tertangkap di daerah Teluk Mayalibit selain dijual dalam bentuk udang kering (tanpa garam) juga sebagai bahan baku terasi. 

Ikan Napoleon dan Kerapu merupakan jenis-jenis ikan karang yang saat ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.  Permintaan akan ikan hidup yang terus meningkat terutama dari negara- negara Asia seperti Hongkong membuat pembeli dari Hongkong secara langsung melatih nelayan untuk merawat ikan kerapu selama di penampungan dan cara mengobati ikan yang sakit.  Selain dikirim ke Hongkong, ikan kerapu banyak juga yang dikirim ke Ternate.

Di beberapa kampung di Kabupaten Raja Ampat menerapkan sistim sasi bagi hasil-hasil perikanan, yaitu Lola, Lobster dan Teripang.  Selama masa sasi penangkapan tidak diperbolehkan,  penutupan bisa berlangsung sekitar 3 - 6 bulan dan biasanya  pada waktu musim ombak.

Produksi Tangkapan

Alat tangkap yang tradisional dan alat transportasi yang sangat sederhana menyebabkan hasil produksi nelayan menjadi terbatas. Hal lain yang menjadi kendala rendahnya produksi tangkapan nelayan adalah tidak tersedianya pasar, sehingga nelayan melaut sekedar untuk konsumsi sendiri dan dijual di sekitar kampung.

Pendapatan dan Pengeluaran

Pengeluaran yang digunakan untuk membuat satu unit perahu nayung (semang) berkisar antara Rp. 200.000 Rp. 500.000, tetapi biasanya nelayan lokal membuat perahunya sendiri. Umur ekonomis perahu antara 1 3 tahun tergantung jenis kayu yang digunakan dan perawatan yang dilakukan. Biaya Hand line (pancing tangan) sekitar Rp. 5.000 Rp. 10.000. Jaring insang per kepala harganya antara Rp. 100.000 Rp. 150.000. Umumnya nelayan memakai 2 3 kepala.

Sekali melaut nelayan yang menggunakan perahu dayung memerlukan sekitar Rp 5.000 - 10.000 untuk membeli rokok, kopi dan gula. Harga ikan segar Rp 5.000 per tusuk atau per  kilogram. Biasanya tujuan utama melaut adalah mencari ikan untuk dikonsumsi sendiri, kelebihannya baru dijual di sekitar kampung.  Untuk bisa mendapat keuntungan nelayan harus mendapatkan minimal 5 kg ikan sekali melaut.

Untuk nelayan yang menggunakan alat transportasi katinting dan motor tempel, untuk melaut memerlukan bahan bakar baik minyak tanah, bensin maupun oli tergantung jenis motor yang digunakan. Harga minyak tanah Rp. 5.000 per liter sedangkan harga oli Rp. 30.000 per liter, bensin antara Rp. 7.000 Rp. 10.000 per liter.  Sekali melaut katinting memerlukan 5 liter bensin murni, sedangkan untuk motor tempel antara 15 20 liter bensin campur (bensin ditambah oli). Harga bahan bakar yang mahal membuat nelayan kesulitan untuk melaut bila tujuannya hanya mencari ikan untuk dimakan sendiri. Biasanya penggunaan katinting dan motor tempel digunakan untuk mencari komoditi yang memiliki nilai ekonomis seperti ikan kerapu, napoleon, tenggiri, lobster, dan lain-lain.

Pendapatan rata-rata per rumah tangga nelayan per bulan berkisar antara Rp. 500.000 Rp. 2.000.000.  Untuk daerah yang dekat dengan pasar (Sorong) seperti Waigeo Selatan, Batanta dan Salawati umumnya lebih mudah memasarkan hasil tangkapannya sehingga pendapatan per bulan antara Rp. 1.000.000 Rp. 2.000.000 per rumah tangga (KK). Untuk daerah yang jauh seperti Ayau, Kofiau, Waigeo Utara, Misool dan lain-lain, pemasaran hasil tergantung pada adanya penampung karena jauhnya jarak yang harus ditempuh sehingga hasil yang akan dijual tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk bahan bakar minyak.

Jalur Distribusi/Pemasaran

Nelayan lokal pada umumnya menjual hasil tangkapannya ke penadah karena kesulitan menjangkau pasar, kecuali daerah-daerah yang dekat dengan Kabupaten Sorong seperti Distrik Waigeo Selatan dan Samate.

Perikanan Budidaya

Kepulauan Raja Ampat sangat potensial bagi pengembangan budidaya perikanan laut terutama ikan-ikan karang (Kerapu dan Napoleon), rumpul laut, mutiara dan teripang karena memiliki kondisi perairan yang sesuai untuk kegiatan ini.  Perairan teluk dan pulau-pulau kecil yang relatif tenang dan belum mengalami pencemaran adalah tempat yang tepat untuk pengembangan budidaya perikanan.

 Budidaya Kerapu dan Rumput Laut

Pemerintah Kabupaten Raja Ampat saat ini sedang mendorong para nelayan untuk mengembangkan budidaya laut, terutama kerapu dan rumput laut. Inisiatif ini dinamakan Gerakan Pengembangan Budidaya Ikan Kerapu dan Rumput Laut di Raja Ampat yang disingkat GERBANG DAPUR RAJA AMPAT.

Budidaya ikan kerapu menggunakan metode keramba jaring apung.  Benih ikan diambil dari alam dan dari tempat pembenihan.  Namun demikian masih terdapat kendala dalam mendatangkan benih ini karena harus dibeli dari Takalar (Sulawesi Selatan), Gondol (Bali) dan Situbondo (Jawa Timur). Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Perikanan dan Kelautan Raja Ampat sedang berusaha mengembangkan hatchery untuk memenuhi kebutuhan benih kerapu karena selama ini ketersedian benih sangat terbatas dan mahal serta resiko kematian benih pada waktu pengiriman cukup besar.

Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sorong sejak tahun 1999 telah memperkenalkan rumput laut kepada masyarakat di Distrik Kepulauan Ayau yang bibitnya didatangkan dari Morotai, kemudian dikembangkan pula di Kampung Harapan Jaya Distrik Misool Timur Selatan. Pada tahun 2000, atas inisiatif masyarakat sendiri, rumput laut mulai dikembangkan di Arefi.

Untuk dapat memasok kebutuhan pasar dalam jumlah besar dan berkesinambungan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Raja Ampat mulai mengembangkan pembibitan rumput laut sendiri di beberapa tempat seperti di Meosbekwan, Waiwo, Friwen, Arborek, Fam, Deer, Solal, dan Harapan Jaya untuk memasok kebutuhan bagi daerah-daerah lain di Kabupaten Raja Ampat.

Budidaya rumput laut menggunakan Metode Lepas Dasar (Off Bottom) dengan masa tanam 20 hari. Usaha ini, di Kampung Arborek, telah menunjukkan keberhasilan.  Dari hasil panen nelayan bisa mendapatkan rata-rata Rp. 2.000.000 per panen/KK. Di kampung ini telah terbentuk 2 kelompok petani rumput laut yang masing-masing kelompok beranggotakan 12 orang.

Saat panen perdana di Kampung Arborek, berhasil dipanen sekitar 1 ton rumput laut, kemudian panen yang kedua hasilnya mencapai 6 ton. Sampai saat ini produksi rumput laut belum dipasarkan ke luar Raja Ampat dan hanya untuk memasok kebutuhan bibit di kampung-kampung atau distrik-distrik yang lain.   Sehingga  tercapai tujuan akhir yaitu seluruh distrik di Kabupaten Raja Ampat dapat memproduksi rumput laut.

Potensi lahan yang tersedia bagi pengembangan budidaya mutiara mencapai 1.600 Ha, namun yang sudah dimanfaatkan baru 525 Ha atau tingkat pemanfaatannya baru 39,06% (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat, 2006).

Kegiatan budidaya mutiara di Kabupaten Raja Ampat tersebar di empat distrik, yaitu Distrik Waigeo Selatan (1 perusahaan), Waigeo Barat (2 perusahaan), Samate (1 perusahaan), dan Misool Timur Selatan (1 perusahaan).

Hasil produksi kegiatan budidaya mutiara selain dijual di pasar domestik seperti Makassar, Surabaya, Jakarta dan Medan, juga diekspor ke beberapa negara seperti Jepang, Singapura dan Thailand.

 




 

(c) Coremap